Bersamamu Ingin Kulakukan Apapun Yang Tuhan Mau

Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 April 2017

KESAKSIAN MANDE RUBAYAH

*kesaksian mande rubayah*
_oleh: harfan min kitabillah_

*
aku sudah membisu selama-lama selam, untuk menahan dengar riuh orang-orang ramai menamai anak yang kulahirkan; tapi bukan anakku yang menjadi batu tak bernama itu
betapa sumbing kisah yang kalian gores di bibir malin, merantaulah ke masa lalu, biar kau saksikan semasin itu kah lidahku? sepahit itukah serapahku?
ketahuilah, telah kuajarkan ia makna lelaki, sedu dan sedan tiada arti, berangkatlah nak berangkat, kejamlah pada masa lalu, tikamlah kehilangan dalam dirimu

*
nak, saban hari selalu kau dengar patahan ranting, terusir kita dari rumah gadang, semakin petang dendam dalam dadaku, terlepas bundo kanduang dalam genggaman, kau berjanji akan lunasi hutang sansai, segeralah segera kembali, sumpal nganga rakus mulut makwo-makdangmu!

*
malin anakku, dari deingin keterasingan ini, kubayangkan kau meringkuk memeluk tabah seorang diri, mengenangkan ketiadaan; masa di mana kenangan tak mengusik rahimku, kau ingin aman kembali ke sana, saat fitnah tak semena-mena, mengatur sejarah kita.
sungguh teramat berat kulepas kau memilih, menghukum diri merantau ke pucat tanah makasar dan malaka, kubayangkan kau dari sudut keterusiran ini; ditempa segala keteraturan kota, pada liat otot-ototmu, bekerja kerinduan nan teramat randu, candu semakin hari membesar lebam dan biru.

*
_faham insyaf faham nan haniang, faham sangko didoroang hati_. pangreh praja! di hadangnya dengan dada terbuka, mari sini denai tetak kapal-kapal tuan! maka kulihat condong kerisnya ke kiri.
tersebab itu kau terusir dari kampung sendiri, untuk memahami arti jarak, lambaian niur kelapa yang memanggil pulang, digoda asin ombak pantai air manis, kau memanggul nestapa

*
pulang jua akhirnya kau ke dapur mande. kudengar kemeriuk anak-anak nakal lapar dalam perutmu, segeralah-segera naik ke rumah, tapi kau membaca cuaca, surut pantai tiba-tiba, pertanda petaka, tapi belum tunai janjimu merebut pusaka, kenapa begitu segera menghadang bencana?

_ombak nan gadang datang menjerat_
_membujuk nalurimu untuk segera berangkat_
_sekian lama terlunta-lunta di tengah samudera_
_ombak pun reda, menepikan kita di sebuah pulau_
_begitu jejak menapak; negeri sembilan diberi nama_

*
_dari tujuh lubang bansi_
_saluang pauah menyiar kabar_
_tiada kutukan sekejam itu_
_tiada durhaka sebising batu_

Tanjungpinang/04/2017

*Selamat hari Kartini*

Rabu, 29 Maret 2017

RUHILAH

Bermula terbit di jantung Maroko, luh keinginanmu mengunjungi-Mu, langkah demi langkah gemetar meragu, terbayang di dasar desir paling palung dadamu, tungkai kaki melepuh atas ribuan mil jarak mimpi, mampukah tertempuh;

semak ilalang tajam sendayan, padang mencekam kerontang gersang, lautan kelam tanpa bintang, liar terkam ancaman binatang, juga alamat-alamat nun nan gelap adalah perawan berdarah biru yang peluh jibaku kau nikahi dengan lapisan tebal ruh pengetahuan.

Bermula setapak jejak alkhiza, membekas di atas tanah Tangier,  kesedihanmu tumpah ruah menitik sepanjang pangkal tualang, dihembus angin diarsir debu, samar sosokmu menuju titik pandangan sayu.

Ribuan mil dilintas lalu, lalu lintaslah bergantian hingga rabak sepatu demi sepatu, menemanimu dalam genap 29 tahun keganjilan, terbangun kau pada mimpi ke-30, mencatat keasingan demi keterasingan.

Hingga malam pasang kelam teramat dalam. Mata-mata makar mampu melihat tempat kau bersembunyi. Mereka berupaya membinasakan huruf-huruf namamu tapi kau begitu yakin tetap menyandang namamu, kau enggan mengganti laqob. Sepanjang nafas kau tak ingin menjelma siapa-siapa pun untuk selamat dari kilatan mata pedang hukuman.

Hadirlah. Kau hadir lagi. Kembali hadir mengukir sunyi. Memulangkan niat ke dalam rumah-Mu. Waktu seolah kusut, dan jarak terlipat. Namamu tetap semerbak harum di kawah rembulan, dan kami terus berusaha mengejamu dengan nama bintang yang serupa. Riuh gemerlap kota menyadarkan kami dari debu konspirasi.

Walau dunia semakin hutan, dan jarak terlampau asing dari bekas langkahmu dulu, kami kelak yang jadi kini, telah menulis atsar-atsar rindumu, yang tak kenal jam terlelap. Terus menuju diam; tempat kenangan tiada bermusim.

Di kendaraan laut, darat, bahkan udara namamu layaknya mural bebas indah radikal, seperti sebuah kursi yang berabad telah mati, tumbuh tunas dan hidup lagi, atau semacam peta benua yang mampu bercerita, sebenarnya kemana saja putra berber melanglang buana?

Tanjungpinang, 28/03/2017

Sabtu, 25 Maret 2017

SEPOTONG SENJA DALAM PELUK INGATAN

Senja menyapa kita dalam hening ma'tsur doa.
Cahaya jingga kuning magrib
merasuk dalam bola mata

Bayangan kita memanjang
menyentuh pancang-pancang pelabuhan kota Batam. Tak ada gelap yang mampu melenyapkan,

selama nyala nyali kita dalam dekap kawanan. Berlima kita (barangkali lebih) di atas kapal barang, dari balik jendelanya, kau memandang gelombang berombak tenang,

mungkin kau bayangkan masing-masing kita serupa buih dibelah baling-baling kapal, rapuh saat lepas sendirian, maka kita menyatu; tenang menunang

lambung sampan juga kapal layar, andai ada yang sesumbar mencabar, alamat karam kita hantarkan, atau kita serupa gelembung, air asin menyublim

menuju awan-gemawan, kelak akan jatuh titik air, lalu deras menguyur bumi, tumbuhkan tunas-tunas, lengkung daun pakisan, begitulah kita bila kekal dalam janji, tatap tegar digegar uji.

Lampu-lampu sekoci, kelap-kelip cahaya dermaga menyambut kita; orang asing yang menapak jalanan petang peraduan, banyak upaya debu menghapus nama kita

sekian jarak tertempuh, telah berpuluh titik peluh menetes pun tak jua kita temukan, alat pengukur panjang senja yang menyepuh setiap muka,

namun kita yakin, bawa ingatan kita punya jari untuk mengenggam muasal janji, juga lengan yang selalu memanjang memeluk sepotong senja, lentur iringi umur menuju sunyi.

Tanjungpinang, 25/03/2017
RR.

Kamis, 23 Maret 2017

Yang Bermakam di Museum

Kau berlari dalam sesak tanjak
menabuh sunyi bunyi inferior

Kau terekam dalam Mozart
guyon-guyon adiluhung

Kau terjebak dalam hapak
Lapuk adat kain sampin

Kau bermalam di Museum
Berteman kelok taming sari

Kau bungkam memahat sepi
Dalam timang dan dodoi kami

Kau saksikan cucucucumu
dilarang keras baca gurindam 12

Dalam gelap yang abadi
Kau bisikkan rayu tajalli

Dalam karat keris pusaka
kau garamkan rindu dan dendam

Pameran pemeran lama
kehidupan baru tumbuh seribu

Terbaling bilang
Terbilang baling

Sejarah memamah jejak takdir
tak kenyang pula tembolok budaya

Dalam sebuah figura aku berkaca pada kau: hadir tak bertanggal lahir, datang tak bertanggal mati.

Tanjungpinang, 12/03/2017

Jumat, 17 Februari 2017

HAL TERTIPIS DI DUNIA


Salah dan benar: dan yang berdiri di tengah-tengah adalah pembatas, hal tertipis di dunia, siratal mustaqim. Bisa tegak menyentuh langit, atau berbaring seperti pantai, tak terhingga diancam ombak. Mau kau renangi, atau kau titi, semuanya berakhir di gerbang surga, cukup satu syaratnya, hati-hati di jalan ya, mau ke kiri atau ke kanan, atau kiri ke kanan-kananan semuanya masuk surga, asal penuh syaratnya, lurus hati ya.

Rabu, 15 Februari 2017

KHUTBAH PERPISAHAN

Sabdamu cahaya matahari menembus celah-celah belukar kala pagi. Cahaya paling sejuk; batangan cemerlang dari awan ke gunung dan bukit berembun. Aku mengendap-endap sembunyi dan menghilangkan diri-- bayang demi bayang, tapi kau selalu mampu menangkap menemukanku dan memulangkanku ke tuju penciptaan. Sentuhanmu sutera rajutan Jibril, mengubahku jadi senjata dan perisai yang tak rela rambutmu luruh walau sehelai.

Hingga wahyu berujung pada telah. Memberi aba-aba. Kau selalu mengingatku lebih dari siapa. Kudengar tiga kali risau itu bergetar; ummati, ummati, ummati.

Pedang yang paling tajam di kota ini terhunus menantang benderang  matahari, mendadak terhempas menerbangkan debu-debu padang pasir, tatkala sebilah firman bagai baru menghujam dan mengupas keras hati.

Kau telah pergi, tanganku masih menggenggam jemarimu, lepas satu-persatu. Semua saksi menjelma sungai, banjir, menguap, kering dan mudah gersang, begitu siklus ini berulang hingga jatuh timbangan raksasa menimpa setiap kepala waspada juga pada rapuh leka.

Luka ini, perih parah. Tiap malam aku membeku. _Wa Allah!_ --- setiap menuju pagi   kau terbit mencairkan aku penyubur gersang di dada harapan.

Aku sesenggukan, memandang pundak-pundak bergetaran, menahun rindu siang ke malam, melangkaui sulbi pada yang terpancar, melebihi akar padi jati saripati.

Tak ada yang datang lagi, setelahmu palsu, cukup seorang pembelah rembulan, juga firman yang belum pernah lebih awal menyentuh hati dan lidah siapapun, hanya kau yang mampu dan Tuhan restu, hanya kau, selebihnya kitab-kitab rawan racun remuk cendawan.

Aku mencintaimu, tapi rindu yang ragu; perasan perasaan kalah, pada tangis sebatang tamar yang merintih kau tinggalkan walau selangkah, walau sebentar menuju mimbar masa depan

ZAKIYAH NURMALA

Gigimu sewarna fajar, renggang juga tanggal satu dua, sering manis dunia kau emut sesukanya, namun tatkala kau tersenyum segala ketaksempurnaan gigi itu melengkapi semesta giga penuhi telaga jiwaku yang kerontang begitu tunggu.

Jilbabmu berkibar-kibar, menahan kobar godaan, "Kata Ustadzah rambut ini mahkota yang harus dijaga, kalau tidak nanti jadi jerat, menyeret ayah masuk neraka," begitu mulut kecilmu cerdas menjelaskan. Mata airku tumpah, sebuah kecupan dan peluk hangat berupaya membeli kenikmatan yang takkan pernah terlunasi.
Jilbabmu riang berkibar-kibar, saat kau berlari menuju pintu kelas, dan melambaikan tanganku padaku.

Lalu pada jam pulang sekolah, ayah menantimu seperti biasa dari balik pagar, sambil bertanya-tanya, di masa dewasa kelak apakah kau benar-benar milik tualang? Jika benar maka ayah akan bersiap menjelma ilalang, yang akan menyentuh lentik jejarimu yang gemetar menenangkan rindu: entah pada siapa.

Tembok-tembok  rumah pula penuh coretan crayon, gambAr itu bergerak di dalam benak, mereka hidup membesar ikuti jejak umurmu.

Suatu ketika pula kau mengadu tentang nama guru yang membatasi pilihan kata hanya pada: bagai, terkilan, lihat, paham dan sepuh, karennya kau enggan kembali sekolah. Untuk mengobati itu seperti biasa dua lembar karcis komidi putar kita pesan di sebuah pasar malam.
"Selamat menikmati masa kecil," ucap penjaga karcis, tapi masa kecilku telah terperangkap di masa depan.

Kau pernah berkata tentang suatu hal yang mampu membuat bumi berhenti berputar, berubah jadi semangka yang jatuh terburai di lantai putih, bercak merah merata tempat, "Ayah, Kata bu guru, orang yang korupsi, tak layak hidup lagi," dan kau mengemut kembali setangkai lolipop rasa susu stroberi.

"Ayah, kenapa hampir di tiap  absensi  namaku sering sekali dipanggil terakhir kali?"

Rudi.rendra, Tanjungpinang

DISETIAP TEMPAT YANG PERNAH ADA KITA

Di masa lalu, kita pernah berbicara tentang masa depan, lalu pembicaraan itu kita hapus dari jejaring sosial dengan ibu jari yang tak pernah tahu rasa melahirkan.

Aku tidak yakin benar bahwa pembicaraan itu benar-benar telah musnah terhapus, aku dengar negara menyimpan setiap pembicaraan, menyadap setiap interaksi, mereka mencurigai rakyat yang telah memberinya minum dan makan, aku bayangkan cumbu rayu, kata-kata privasi telah menjelma jadi bom waktu, yang sewaktu-waktu menunggu pemicunya terinjak oleh lidah sendiri, lalu negara melucuti setiap topeng yang mereka kenakan.

Bank pencurian data pembicaraan itu membuat kita menyepakati sebuah bahasa diam yang berarti penantian. Kata-kata sandi telah kita rumuskan untuk menutupi maksud agar tak direnggut telinga mata negara.

Aku selalu punya alasan lebih dahulu untuk menghubungimu, semua rahasia kalimatku kau anggap mungkin, setiap alasan pula berarti bagai, aku mendengar tanggapanmu yang bermakna kapan, semua kata akhirnya membingungkan kita, menjebak kita pada kota sandi yang berujung pada kesimpulan tak terpecahkan oleh dua belah pihak yang pernah bersepakat.

Di bangku seminar pernikahan, dimana kau dan aku pernah dipertemukan ketaksengajaan, gedung itu kini telah dirobohkan pemerintah daerah, diganti dengan sebuah gedung yang lebih indah, masa itu telah terkubur menjadi pondasi mengukuhkan keringkihan tembok yang mudah sekali runtuh.

Dua pasang kaki silang sepak, enggan mengakui masa akan yang pernah kita setabahi, di tanah yang pernah ada jejak kita, masih terlihat bekas itu, dua tapak kaki saling berhadapan, menyerahkan ketidaksanggupan diri saling menyentuh.

Maka kuizinkan matahari membelah diri jadi dua, terbit dari timur dan barat bersama-sama, lalu condong ke arah angka sebelah dan dua, membentak jasad kita untuk berdekapan, tapi tak seinci pun kita  mampu menghangatkan, selain membentuk dua  bayangan tubuh  yang berpelukan tak bisa menghasilkan apa-apa selain tajam kedinginan.

Semua tempat yang pernah ada kita, sejatinya tak pernah bisa terhapuskan, maka mereka menjadi bisa, membuat hati merasakan sensasi debar bermain judi di meja takdir, kita pula adalah menu yang tak pernah disentuh untuk mengenyangkan kerinduan sendiri, serupa reduksi peribahasa tentang pelangi yang tak berpeluang ada di atas kepala sendiri.

Di setiap tempat yang pernah ada kita. Tak semata cukup dicakup dengan istilah kenangan, mereka hidup tetap hidup tersimpan dalam mega server penyimpanan memuat semua kerut keningan, bila kau rindu berkunjunglah ke taman yang penuh kunang-kunang, kenanglah aku sebagai kelap-kelip yang merawat penglihatanmu dengan air mata. Dan Izinkan aku tidur lelap di matamu.

Rudi Rendra. Tanjungpinang 12/2/2017

Sabtu, 28 Januari 2017

∞



∞
K e s i a g a a n
mengukir nisan binafsih,
 tualang                mengukur
                                                            takbiratul                       ihram                                                         
                                                           Kekasih:                    t e l a h
                                                             r e k a h               kembang
                                                                 mentari,   bersedekap  
                                                                        m  e  n  y a p a
                                                                       s  u  w  a  r  g a
                                                                  bergegas          l e k a s
                                                            menuju                          malam,
                                                          berlarian                            K  a  u
                                                         datang                                pada di,
                                                          K   a  u                           Terang   
                                                             Lambang                 A b a d i
                                                                  a k u  tarung  lambung
   a b e d i :  8,



rudi rendra
Tanjungpinang,
2  0  1  7

Jumat, 27 Januari 2017

MENYIMAK TANGIS

Hujan merekam rendam milimeter basah dalam ini tanah
Ia simak setiap lembab doa tabah akar-akar tercerabut:
hijau  selimut kabut. Di masa hadapan ratap tak lagi beratap, 
dari berbagai seluk pelosok sejuk pun enggan berkubang 
dalam lumpur. Aroma kering menguar mengenangkan suara 
air menetes dari bunga, dari daun, dari ranting, dari loteng, 
dari tiang listrik, dari awan yang kehilangan daya menangis 
dengan air mata. Dari keran kamar kecilmu, tempat sembunyi 
sesak teriak.
 
Dari sela-sela genggaman Yang Kuasa, ia melihat ke bawah 
bahwa semua kerinduan itu pecah di setiap mata, kering dari 
riwayat alur alir air yang pernah mengajak batu goyah dari 
diamnya, ia pilih pergi bukan benci sebagai lawan untuk 
pulihnya cinta (mampu sembuhkah?), tapi mengapa sepi malah 
semena-mena menganak sungai, 


2017

Selasa, 24 Januari 2017

AYSA




bukan aku tak menyadari
kau masih berjalan di belakangku
menapaki bekas jejak kakiku
di atas tumpukan putih salju

maka timbul niat isengku
untuk mengerjaimu
kutambahkan  panjang langkah kaki

tentu saja kaki mungilmu itu
harus melangkah lebih panjang
dari langkah normalmu

MASIHKAH KITA INGIN



Tak ada lagi kesempatan yang bisa kita pinta ketika waktu enggan kembali untuk menghapus daftar panjang penyesalan. Sembunyi pun ikut berbunyi menolak kompromi untuk menutupi setiap jengkal penyangkalan diri dari takdir yang menepi menuju sepuhan warna magrib. Aroma tanah menyeruak seperti memberi pertanda bahwa tak ada lagi waktu untuk menampung basah mata air yang tertumpah, terbayang ketika itu kehidupan sesungguhnya akan dimulai, jarak yang jauh membuat bayangan kita lebih dahulu menyentuh sebuah padang yang seakan  tak tertempuh.

Sabtu, 21 Januari 2017

WADHUHA

terbangun
dengan peranjat
di ujung rambut
padahal semalam
sebelum tidur
tingkap telah katup
pintu pun ditutup
kekhawatiran tetap saja
mudah masuk
waktu selalu mampu
meniup tipu siuman:

subuh merasuk
jadi gigil di hatimu

sesal menyusul
suruk akan badai amuk

DIRIMU


Dirimu adalah bintang yang hanya terbit di langit kota ini, setiap mata selalu rindu untuk kembali menatapmu, perasaan yang membuat para perantau kembali, hanya untuk melihatmu. Sedangkan diriku tak lebih hanya bangunan tua, yang terdaftar akan dirobohkan pemerintah kota, yang telah sangat bersemangat menyusun rancang tata kota. Sepanjang sadar aku menatap langit, tapi yang kulihat hanya kusam langit-langit.

MIMPIKU MENIKAHI MASA LALUMU


MIMPIKU MERNIKAHI MASA LALUMU
"Kau suka berenang atau di renangi? Kau suka mengenang atau digenangi? Kau pilih mana, membawa karangan bunga ke makamku atau sebaliknya, dikirimi karangan bunga?"
"Tunggu sekejap, mimpi ini gerangan siapa yang punya?"
"Pura-pura dalam perahu?, ya kura-kuralah mimpimu"
"Manapula, mimpi inilah kepunyaanmu"
dan mereka cubit-cubitan untuk memastikan mimpi siapa yang sedang mereka selami.
Saling bertengkar manja juga saling tuduh mesra, tentang mimpi atau nyata atau milik siapa, setelah mereka lelah akhirnya sebuah kesepakatan tercipta,
"Kau tak mengaku”
“Kau tak juga mengaku”
“Bagaimana jikalau ini mimpi kita, jangan pernah kita terjaga. Maukah kau dinda?"

11/01/2017

TARUNG TERANG DALAM LAMBUNG ABDI



KAU terang lambang abadi
aku tarung di lambung abedi




KUMANDANG AZAN BURUNG GEREJA

serapat apa pun kau tutup telinga
sekuat apa pun kau memekaktulikan ruang dengar
semakanan apapun kau sumpal mulutmulut lapar
sepasung apapun kau rantai rakaat sholat
aku burung gereja
takkan berhenti untuk azan
: hayya 'alasshalah
Badai angin menyamarkan dengar
terbangku kalangkabutan
tak bisu aku nyaring sarangkan
walau kecil sayapku ini
tak pernah lelah kepakkan roja
walau kau hapus hurufhuruf
zikir zakarku tawadhu khauf
inilah kumandang azanku                                                                                                                              gema suara burung gereja
memanggil jamaah burung gereja                                                                                                                 berhimpun dalam rapat safsaf siaga
sujud ini jarak terdekat
dengan yang Maha Kuat
inilah kumandang azanku
gema suara burung gereja
panggilan menuju kemenangan
sekuat apapun kau serang sarangsarangku
bertahan aku bertahan
walau kau anggap aku burung gereja
tapi aku lebih memilih azan di masjid                                                                                                             dan surau mereka
akulah burung gereja
membawa titah Tuhan
terarsir di deru mesin kota
sering mengintai di gereja
tapi di masjid azanku beroleh izin
akulah burung gereja
hinggap di celahcelah ventilasi udara
: hayya 'alal falah
 mari menuju kemenungan


GURINDAM: GUGUR TERENDAM DENDAM



ISTRI IDAMAN

Damba kasih istri idaman
Penuhkan kasih kesabaran
Dia adalah sebaik pakaian
Di rumah istri di jalan kawan

Istri itu penyejuk mata
Penawar gundah kabar derita
Senyumnya riang berbagi cerita
Dia hadir bersama cinta

Kehadirannya penajam fikiran
Di waktu buntu penunjuk jalan
Salah kata suami dia betulkan
Nasehat baik suami ia amalkan

Dialah pengingat kala suami lupa
Wajahnya cerah serinya rupa
Penghibur di waktu sunyi menerpa
Terasa indah walau kedana-papa

Istri ibarat tulang rusuk kiri
Dekat ke hati cinta diberi
Dekat ke tangan perisai diri
Lemah-lembutlah bila memberi

Jangan cintai dia apa adanya
Cintailah ia rubah buruknya
Terimalah dia apa adanya
Terimalah segala sifat bawaannya

Istri ibarat kaca berdebu
Bersihkan padanya noda kelabu
Lemah lembutmu utamakan itu
Semoga kekal sepanjang waktu

NGOREKSI PUISI RIKA UTARAN

malam itu, seorang gadis berkacamata, ngirim puisinya ke wa-ku, hohoho, ceritanya minta dikoreksi, ya begini jadinya kalau amatiran ngoreksi puisi, jadinya hemm susah didefinisikan, monggo dibaca dan diambil ilmunya jika ada, puisinya begini, komentarnya begitu, sayang dibuang mending diabadikan, barangkali bisa jadi pandangan untuk mengambil kebijakan di masa depan, beuh, hoho moggo diwoco rek!
[17/1 21.39] Rika Utari: Sajak malam

Kurebahkan jiwa serta kalbuku yang usang
Ketika pohon benar-benar merebah:
Lewat di 1/3 malam
Ku lampirkan janji-janjiku pada-Mu

Tiba-tiba tersadar
betapa ingkarnya diriku
Dari dalam rumah gerimis kecil masih kudengar
Dari celah-celah pintu
Ada yang tertidur di meja, lelah sekali

Masih patutkah kuhitung kepunyaanku
Sebuah buku dan sebuah pensil
Ketika kuucap terus nama-Mu
Taram temaram bayang aurora itu

# 😁😁😁
Ntah ape2
[17/1 22.38] rudi rendra: Ini puisi telanjang, dulu aku juga sering nulis sejelek ini
[18/1 07.10] Rika Utari: Hahahahaha
[18/1 07.10] Rika Utari: Tapi kejelekan hari ini akan lucu jika diingat πŸ˜‚
[18/1 07.23] rudi rendra: Puisinya bagus kok, cuma ada beberapa yang menurutku gak enak, tiba tiba tersadar (coba cari kalimat lain, yang tidak terus terang tapi maksudnya itu tiba tiba tersadar)
[18/1 07.24] Rika Utari: Hahaha... aku tau itu jelek. Tapi ku suka.
[18/1 07.24] Rika Utari: Blajar dr kjelekan
[18/1 07.24] rudi rendra: Berapa ingkarnya diriku (cari kalimat lain yang menyatakan ingkar) jangan buka baju di depan mataku, aku tak bernafsu yang telanjang bulat, aku suka yang transparanπŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…
[18/1 07.25] Rika Utari: Hahaha.
Aku berusaha ni πŸ˜‘.
[18/1 07.47] rudi rendra: Tidak menepati janji: umpama janji itu manusia bagaimana kau membunuhnya? Tikam janjimu
[18/1 07.47] rudi rendra: Menikam janji
[18/1 07.48] rudi rendra: Meracun janji
Menuba janji
Membungkam janji
Memasung janji
[18/1 07.49] rudi rendra: Menikam budi
[18/1 07.51] rudi rendra: Bagai lembu dicucuk hidung, itu peribahasa untuk orang penurut, coba mainkan peribahasa itu agar maknanya jadi ingkar, cari istilah tali yang digunakan untuk mengekang hidungnya itu apa namanya,
[18/1 07.58] rudi rendra: Tali keluh adalah tali yang digunakan untuk membuat sapi menjadi penurut, tali keluh di pasang pada hidung sapi, sapi merasakan kesakitan yang sangat apabila tali itu ditarik sesuai keinginan pemiliknya, tali itu dipasang pada hidung sapi dengan cara ditindik. Di dalam Al Quran, manusia sering di ejek dengan istilah hewan ternak, mereka lebih buruk dari hewan ternak, maka istilah istilah ini bisa kita tamu menjadi istilah untuk kata ingkar: aku sapi memutus (kata memutus cari istilah yang melayu, misalnya ?) tali keluh hidung berdarah-darah, bau firman tak tentu kesah,
[18/1 07.59] Rika Utari: Iya td mlm ak mencoba mncari kata yg indah. ku cari di google namun aku tak tau kuncinya ap.
Apakah sinonim atau antonim atau majas
[18/1 08.00] Rika Utari: Biasanya mu pky kata2 itu lht dmn ?
Aku ykin mu sring baca buku jadi bnyk kata πŸ˜‚
[18/1 08.06] rudi rendra: Aku dalam kandang
Kau dalang kandung
Aku malin kundang
Putuskan tali keluh
Betapa ternak aku menanduk janji

Coba perhatikan puisi itu,

1. kata katanya aku susun berdasarkan kedekatan makna, (kandang, tali keluh, ternak, tanduk)

2. Tersusun dari bunyi pengucapan yang hampir sama (kandang, kandung, kundang)

3. Susun sesuai seleramu, dan jangan takut untuk ditanggapi, aku sering babak belur di dikomentari, ahli ahli puisi
[18/1 08.08] rudi rendra: Aku dalam kandang: artinya kita senantiasa dalam pengawasan Allah, Allah senantiasa memulihkan kita, tapi kita sendiri yang merendahkan diri, sering berbuat dosa, menjatuhkan martabat kita, sebab dosa sesungguhnya mengekang kita dari kebebasan mencintai Allah, sebab dosa kita jauh dari bebas memilih rahmat mana yang sesuai selera,
[18/1 08.09] rudi rendra: Memulih, *memuliakan
[18/1 08.09] rudi rendra: Itulah mereka, lebih hina dari hewan ternak
[18/1 08.11] rudi rendra: Kau dalang kandung, : di dalam kandungan kita telah mengambil janji, tapi kita melupakan janji itu, Kau adalah Tuhan yang mendalangi takdir sejak aku dalam kandungan ibuku, kalau ditafsirkan bisa panjang walau satu kalimat tapi maknanya bisa panjang
[18/1 08.13] rudi rendra: Aku malin kundang, adalah tokoh lagenda kedurhakaan seorang anak kepada ibu, durhaka pada ibu sama dengan durhaka pada Allah, ridho Allah terletak pada ridho ibu
[18/1 08.17] Rika Utari: Ptuskan tali keluh : sudah usaikan saja keluhan mu
[18/1 08.18] Rika Utari: Betapa ternak aku menanduk janji : sudah banyak mengucap janji tapi

Tanduk artinya aku blm paham πŸ˜…
[18/1 08.21] rudi rendra: Tali keluh itu agama | Al-Quran, sejalan dengan firman Allah, berpegang teguhlah pada tali agama Allah, Allah suruh kita pegang, tapi kita menelikung tangan, maka dengan paksa Allah tusukkan ke hidung kita, hidung itu titik keseimbangan manusia, bila dipukul maka manusia limbung, nah lebih parahnya lagi, dengan ussaha yang keras, manusia membeli dosa dengan harga yang sangat mahal, padahal pahala itu di dapat tanpa modal yang besar, tapi mengapa dosa yang,senantiasa dikejar, begitulah manusia, selalu memutuskan tali keluhnya, kalau kita nurut sama Allah tak perlu Allah tindikkan tali keluh di hidung kita, tak perlu, cukup dengan beberapa ayat, air mAtanya terburai, hatinya bergemuruh hebat
[18/1 08.23] rudi rendra: Betapa ternak itu artinya lebih hina dari hewan ternak, bukankah kita wajib merendahkan diri di hadapan maha kuasa, untuk mendapatkan pengakuan sebagai sejati hamba?
[18/1 08.24] rudi rendra: Tanduk itu lambang sombong, lihat hewan ternak yang berani menyerang kebanyakan yang punya tandukkan?
[18/1 08.25] Rika Utari: Oh iya iya
Tanduk lambang sombong
[18/1 08.26] Rika Utari: Nah dari mana mu dapat arti kata2 itu, apakah sering mmbaca atau ada terjemahannya
[18/1 08.26] Rika Utari: ???
[18/1 08.29] rudi rendra: Ilham
[18/1 08.30] rudi rendra: Iya baca, itulah ilmu, keluar sendiri kalau kita mau
[18/1 08.54] rudi rendra: Puisi itu adalah perjalanan kata, piknik kata kata, kita sang supir, yang mengendalikan mau di ajak kemana kata kata, katakata sudah terlalu lelah terkurung dalam penjara, penjara bagi katakata adalah kamus, ajak kata kata keluar dari kamus, buat dia bahagia,menemukan makna yang lebih indah, pasangkan dia dengan kehendaknya, maka puisi membahagiakan setiap mata
[18/1 08.59] Rika Utari: Berarti kamus yang harus banyak kita baca
[18/1 08.59] Rika Utari: Selain karya org
[18/1 09.08] rudi rendra: Iya, kamuskan bisa download juga
[18/1 09.09] Rika Utari: Kamus b indo atau kmus majas
[18/1 09.10] rudi rendra: Kamus malas,boleh juga, sebagai landasan untuk membebaskan makna awal
[18/1 09.11] rudi rendra: Majas
[18/1 09.11] Rika Utari: Okeh
[18/1 09.11] Rika Utari: Ak cari d playstore
[18/1 09.11] Rika Utari: Atau aplikasi yg lain
[18/1 09.15] rudi rendra: Kamus,bahasa,melayu
[18/1 09.16] rudi rendra: Kbbi
[18/1 09.29] Rika Utari: Maachi 😊

Minggu, 08 Januari 2017

TANAH AIR CACING


di tanah air ini, aku selalu mencari celah yang tak ada pukau      
tapi hampir di tiap jengkal telah ditanami ranjau, aku kangen ketabahan sunyi menumbuhkan senyum dan gurat bahagia hamba pada subur rahasia, kini padma terapung dibakar basah api resah, sebagai cacing aku harus bagaimana?

sulit bagi nyala sampai pada puncak sumbu konstitusi negara    sebagaimana gembur piagam Madinah melebur segala batas wilayah, serbuan tanya hadir mengganggu: di mana letak terang-benderang ufuk petunjuk? Sebagai cacing aku tak bisa melubangi semen reklamasi

padi tak mau merunduk, umat-Mu berlutut takluk  
setelah tak ada lagi peluk, tubuh jadi milik peluru amuk
di atas permukaan gersang, petang tersengat sembilang
potongan tubuh lintang pukang, granat menabur kiamat

aku tak punya selera, mengurai bangkai manusia, mengurai potongan putus asa. Bahkan unsur hara tak bernyali untuk sekedar mengenang Kenanga. Bahkan jerih jernih tak mampu melepas dahaga membendung murung arus

mereka para pembajak negeri, pastinya telah mendengar  
tetes syahdu keran yang tak ditutup rapat saat bisa malam membisikkan sabda tentang tualang yang tak akan lama melangkahi gagang pintu bila menuai melulu, tanpa mau merawat tulus pohon pinta

di tanah airku, matahari telah buta bulan pun pucat 
tapi pandang-Mu tidak pernah redup, 
telah Kau saksikan eksploitasi timah, emas, batu bara, juga barang tambang lainnya
modol-modol di saku celana penambang asing dari China
kelak dengan cahaya-Mu benderanglah segala tipu-tipu membakar mikrofon mereka saat berkaroke ria di atas Senggarang

aku hanya cacing teman petani tak bisa lebih memberi arti
tapi selain babi, pengijon juga musuh kami
mereka membanting harga saat panen padi telah sedia 
di kelupas sisik hari. Kawanku itu mencangkuli ladang dengan kerontang airmata, menadah peluh menebus harapan

aku tak dapat lagi memilih tempat abadi di kebun siapa 
karena ranjau serakah sewaktu-waktu meledak tanpa perintah
kami cacing tanah, kirim salam pada cacing air, masihkah murni mengalir menuju Rahim? Atau telah keruh dituba ludah plastik penjajah?

Tanjungpinang, 25 Desember 2016

Popular Posts